Skip to content

UI/UX untuk Edukasi

UI/UX dalam pendidikan bukan hanya soal estetika, melainkan tentang bagaimana antarmuka tersebut dapat memfasilitasi proses kognitif pebelajar. Jika antarmuka membingungkan, beban kognitif pebelajar akan habis untuk memahami cara kerja sistem, bukan memahami materi.

Berikut adalah kumpulan materi mengenai penerapan prinsip UI/UX khusus untuk platform edukasi:


1. Prinsip Usability (Nielsen’s Heuristics) dalam Konteks LMS

Section titled “1. Prinsip Usability (Nielsen’s Heuristics) dalam Konteks LMS”

Jakob Nielsen menetapkan 10 aturan umum untuk desain interaksi. Berikut adalah interpretasinya saat diterapkan pada Learning Management System (LMS):

Prinsip HeuristikPenerapan dalam LMS
Visibility of System StatusMenampilkan Progress Bar. Pebelajar harus tahu posisi mereka dalam kursus (misal: “3 dari 10 topik selesai”).
Match between System & Real WorldMenggunakan terminologi pendidikan yang akrab bagi pebelajar seperti “Silabus”, “Tugas”, atau “Ujian”, bukan istilah teknis database.
User Control & FreedomAdanya tombol “Back” atau “Cancel” saat mengerjakan kuis (jika diizinkan) dan kemampuan untuk menandai materi sebagai “selesai” secara manual.
Consistency & StandardsIkon untuk “Kuis” atau “Materi PDF” harus konsisten di seluruh modul agar pebelajar tidak bingung saat berpindah mata kuliah.
Error PreventionMemberikan konfirmasi sebelum tindakan fatal, misalnya: “Apakah Anda yakin ingin mengirim jawaban kuis ini sekarang?”
Recognition rather than RecallInstruksi tugas harus tetap terlihat saat pebelajar mengerjakan tugas tersebut, sehingga mereka tidak perlu menghafal instruksi dari halaman sebelumnya.
Flexibility & EfficiencyMenyediakan shortcut bagi pengguna mahir (guru) untuk mengimpor soal sekaligus, namun tetap simpel bagi pengguna baru.
Aesthetic & Minimalist DesignMenghilangkan elemen visual yang tidak perlu (distraksi) agar pebelajar tetap fokus pada konten utama.
Help & DocumentationMenyediakan panduan penggunaan platform atau fitur chatbot bantuan jika pebelajar mengalami kendala teknis dalam mengakses materi.

Aksesibilitas memastikan bahwa pembelajaran dapat diakses oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik maupun kognitif. Ini merupakan perluasan dari Prinsip Multimedia Mayer.

Fokus pada bagaimana informasi ditangkap oleh indra penglihatan:

  • Kontras Warna: Memastikan teks mudah dibaca dengan rasio kontras yang cukup (standar WCAG 2.1). Hindari penggunaan warna saja untuk menyampaikan informasi (misal: tombol “Benar” hanya dibedakan warna hijau tanpa ikon centang).

  • Legibilitas Tipografi: Menggunakan font Sans Serif yang bersih (seperti Inter atau Roboto) dan ukuran teks minimal 16px untuk kenyamanan membaca di layar.

  • Screen Reader Friendly: Memberikan Alt-text pada gambar instruksional sehingga pebelajar tunanetra dapat memahami konten gambar tersebut melalui suara.

B. Aksesibilitas Kognitif (Lanjutan Prinsip Mayer)

Section titled “B. Aksesibilitas Kognitif (Lanjutan Prinsip Mayer)”

Fokus pada cara otak memproses informasi tanpa kelebihan beban (Cognitive Overload):

  • Segmenting (Prinsip Segmentasi): Memecah video panjang atau teks tebal menjadi potongan kecil (micro-learning). Ini sangat membantu pebelajar dengan gangguan konsentrasi atau ADHD.

  • Signaling (Prinsip Pemberian Isyarat): Menggunakan highlight, penebalan teks, atau panah pada visual untuk mengarahkan perhatian pebelajar pada poin kunci.

  • Spatial Contiguity: Meletakkan teks penjelasan sedekat mungkin dengan gambar atau diagram yang dijelaskan, bukan di halaman yang berbeda, untuk mengurangi kerja memori jangka pendek.

Kaitan dengan LXD: UI/UX yang buruk adalah “hambatan” (pain point) dalam perjalanan belajar. Dengan menerapkan prinsip di atas, kita memastikan teknologi menjadi jembatan yang tidak terlihat (seamless interface) antara pebelajar dan pengetahuan.