Skip to content

Prinsip Dasar Penilaian

Dalam merancang penilaian, terdapat tiga pilar utama yang menentukan kualitas instrumen:

Sejauh mana sebuah tes mengukur apa yang seharusnya diukur.

  • Content Validity: Apakah soal mencakup seluruh materi yang diajarkan?
  • Construct Validity: Apakah instrumen benar-benar mengukur kompetensi (misal: kemampuan coding) atau hanya hafalan sintaks?
  • Criterion Validity: Sejauh mana hasil penilaian berkorelasi dengan standar eksternal.

Konsistensi hasil penilaian jika dilakukan berulang kali pada kondisi yang sama.

  • Stability: Konsistensi hasil dari waktu ke waktu.
  • Internal Consistency: Sejauh mana item-item dalam satu tes saling berhubungan.

Memastikan penilaian tidak menguntungkan atau merugikan kelompok mahasiswa tertentu berdasarkan latar belakang sosial, budaya, atau keterbatasan fisik (aksesibilitas).


2. Alignment Frameworks: Menyelaraskan Tujuan dan Evaluasi

Section titled “2. Alignment Frameworks: Menyelaraskan Tujuan dan Evaluasi”

Penilaian yang efektif harus selaras (aligned) dengan tujuan pembelajaran. Dua kerangka kerja utama yang digunakan adalah:

Fokus pada proses kognitif. Digunakan untuk menentukan kata kerja operasional (KKO) dalam soal.

  • LOTS (Lower Order Thinking Skills): Remember, Understand, Apply.
  • HOTS (Higher Order Thinking Skills): Analyze, Evaluate, Create.

Berbeda dengan Bloom yang fokus pada jenis proses berpikir, DOK fokus pada konteks dan kedalaman tugas.

  1. Level 1 (Recall): Mengingat fakta atau prosedur sederhana.
  2. Level 2 (Skill/Concept): Menerapkan pengetahuan, merangkum, mengklasifikasi.
  3. Level 3 (Strategic Thinking): Penalaran kompleks, perencanaan, memberikan bukti.
  4. Level 4 (Extended Thinking): Investigasi mendalam, seringkali membutuhkan waktu lama (seperti proyek atau portofolio).

3. Jenis Penilaian: Formative vs Summative

Section titled “3. Jenis Penilaian: Formative vs Summative”
FiturFormative AssessmentSummative Assessment
TujuanMemantau progres dan memberikan umpan balik berkelanjutan (Assessment FOR Learning).Mengukur pencapaian di akhir periode instruksional (Assessment OF Learning).
KapanSelama proses pembelajaran berlangsung.Di akhir unit, semester, atau tahun.
Dampak NilaiBiasanya berbobot rendah atau tidak dinilai (fokus pada perbaikan).Berbobot tinggi dan menentukan kelulusan/grade.
ContohKuis singkat, refleksi, diskusi kelas, think-pair-share.Ujian akhir (UAS), proyek akhir, sertifikasi.

4. Integrasi Teknologi Pendidikan (EdTech) dalam Assessment

Section titled “4. Integrasi Teknologi Pendidikan (EdTech) dalam Assessment”

Teknologi memungkinkan penilaian menjadi lebih personal, adaptif, dan efisien.

A. Computer-Based Testing (CBT) & Proctored Exams

Section titled “A. Computer-Based Testing (CBT) & Proctored Exams”

Penggunaan Learning Management System (LMS) seperti Moodle untuk otomatisasi penilaian.

  • Question Bank: Mengacak soal untuk menjaga integritas tes.
  • Automated Feedback: Memberikan penjelasan langsung setelah mahasiswa menjawab salah.

Algoritma yang menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan jawaban sebelumnya dari mahasiswa. Jika mahasiswa menjawab benar, soal berikutnya lebih sulit (berkaitan dengan Item Response Theory).

Menilai kompetensi dalam konteks dunia nyata, sangat relevan untuk pendidikan vokasi atau teknologi:

  • Digital Portfolios: Menggunakan platform untuk mendokumentasikan progres proyek (misal: GitHub untuk pengembang).

  • Simulasi & Virtual Labs: Menilai keterampilan praktis dalam lingkungan digital yang aman.

  • Peer Assessment: Menggunakan fitur Workshop di LMS untuk memungkinkan mahasiswa saling memberikan umpan balik berdasarkan rubrik yang telah ditentukan.

Menggunakan data dari penilaian untuk perbaikan pengajaran:

  • Item Analysis: Mengidentifikasi soal mana yang terlalu sulit atau membingungkan (validitas rendah).
  • Early Warning System: Mendeteksi mahasiswa yang berisiko tidak lulus berdasarkan pola interaksi dan hasil kuis awal.

Data penilaian bukan hanya untuk memberi nilai, tapi sebagai navigasi instruksional:

  1. Iterasi Kurikulum: Jika sebagian besar mahasiswa gagal pada topik tertentu, materi tersebut perlu dirancang ulang.
  2. Personalized Learning: Memberikan intervensi khusus bagi mahasiswa yang belum mencapai ambang batas kompetensi tertentu berdasarkan data kuis formatif.
  3. Refleksi Pengajar: Menilai efektivitas metode pengajaran yang telah dilakukan.