Mayer’s Principles of Multimedia Learning
Berikut adalah kumpulan materi mendalam mengenai 12 Prinsip Pembelajaran Multimedia Richard Mayer, yang berakar pada teori kognitivisme dan bagaimana otak memproses informasi melalui saluran visual serta auditori.
1. Mayer’s Principles of Multimedia Learning
Section titled “1. Mayer’s Principles of Multimedia Learning”Prinsip-prinsip ini dirancang untuk meminimalkan beban kognitif luar (extraneous load) dan memaksimalkan pemrosesan kognitif yang relevan (germane load).
A. Prinsip Dasar (Multimedia, Contiguity, Modality)
Section titled “A. Prinsip Dasar (Multimedia, Contiguity, Modality)”-
Multimedia Principle: Orang belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar daripada hanya dari kata-kata saja. Gambar di sini harus bersifat instruksional (menjelaskan), bukan sekadar dekoratif.
-
Spatial Contiguity Principle: Kata-kata dan gambar yang terkait harus diletakkan berdekatan di layar. Pembelajar tidak perlu membuang energi kognitif untuk “mencari” teks yang menjelaskan suatu bagian gambar.
-
Temporal Contiguity Principle: Kata-kata dan gambar yang terkait harus disajikan secara bersamaan (simultan), bukan bergantian. Misalnya, narasi suara muncul saat animasi sedang berjalan.
-
Modality Principle: Orang belajar lebih baik dari grafis dan narasi (suara) daripada grafis dan teks di layar. Ini mencegah saluran visual menjadi kewalahan (overload).
B. Prinsip Efisiensi (Redundancy & Coherence)
Section titled “B. Prinsip Efisiensi (Redundancy & Coherence)”-
Redundancy Principle: Jangan sajikan teks di layar, gambar, dan narasi secara bersamaan jika teks tersebut hanya mengulangi narasi. Ini membingungkan otak karena harus memproses teks dan narasi yang sama melalui dua jalur berbeda.
-
Coherence Principle: “Less is more”. Hapus kata-kata, gambar, atau musik yang tidak relevan (meskipun menarik). Elemen dekoratif yang tidak mendukung tujuan pembelajaran justru mengalihkan perhatian dari materi inti.
C. Prinsip Sosial (Personalization & Voice)
Section titled “C. Prinsip Sosial (Personalization & Voice)”-
Personalization Principle: Gunakan bahasa yang percakapan (conversational style) daripada bahasa formal atau kaku. Menggunakan kata “Saya” atau “Kamu” membuat pembelajar merasa sedang terlibat dalam interaksi sosial.
-
Voice Principle: Orang belajar lebih baik jika narasi diucapkan oleh suara manusia yang ramah daripada suara mesin/robot yang monoton.
-
Image Principle: (Tambahan) Orang tidak harus melihat wajah instruktur di layar untuk belajar lebih baik. Terlalu sering menampilkan wajah pembicara justru bisa menjadi extraneous load.
2. Materi Tambahan: Melengkapi Ekosistem Multimedia
Section titled “2. Materi Tambahan: Melengkapi Ekosistem Multimedia”Untuk melengkapi teori Mayer dalam konteks teknologi pendidikan modern, berikut adalah materi yang sangat relevan untuk ditambahkan:
A. Dual Coding Theory (Allan Paivio)
Section titled “A. Dual Coding Theory (Allan Paivio)”Ini adalah fondasi teoritis dari prinsip Mayer. Teori ini menyatakan bahwa otak manusia memproses informasi melalui dua saluran terpisah:
-
Saluran Verbal: Untuk teks dan suara.
-
Saluran Visual: Untuk gambar, video, dan diagram.
-
Poin Utama: Belajar menjadi paling efektif ketika informasi yang bermakna diterima melalui kedua saluran secara bersamaan, memperkuat memori jangka panjang.
B. The Pre-training Principle
Section titled “B. The Pre-training Principle”Sebelum mahasiswa masuk ke modul microlearning yang kompleks, mereka sebaiknya diberikan pengenalan tentang istilah-istilah kunci atau konsep dasar.
- Aplikasi: Video singkat 1 menit tentang glosarium sebelum simulasi interaktif dimulai. Ini mengurangi intrinsic load saat materi utama diberikan.
C. Signaling (Cueing) Principle
Section titled “C. Signaling (Cueing) Principle”Memberikan petunjuk visual pada bagian-bagian penting dalam video atau materi interaktif.
- Aplikasi: Menggunakan panah, highlighting, atau lingkaran warna mencolok saat menjelaskan kode pemrograman atau diagram mesin agar mata mahasiswa langsung tertuju pada poin yang dibahas.
D. Segmenting & Learner Control
Section titled “D. Segmenting & Learner Control”Pembelajar belajar lebih baik jika materi dipecah menjadi bagian-bagian kecil (segmen) di mana mereka memiliki kendali untuk melanjutkan ke bagian berikutnya (user-paced).
- Aplikasi: Daripada video 15 menit tanpa henti, gunakan rangkaian video 3 menitan dengan tombol “Next” atau kuis singkat di antaranya.
E. Social Agency Theory
Section titled “E. Social Agency Theory”Teori ini menjelaskan mengapa Personalization dan Voice Principle bekerja. Ketika media pembelajaran menggunakan isyarat sosial (seperti gaya bicara santai), otak meresponsnya sebagai percakapan sosial yang nyata, sehingga meningkatkan motivasi untuk memahami pesan tersebut.
3. Matriks Ringkasan untuk Mahasiswa
Section titled “3. Matriks Ringkasan untuk Mahasiswa”| Prinsip | Pesan Utama | Kesalahan Umum |
|---|---|---|
| Coherence | Sederhanakan konten. | Memasukkan musik latar yang terlalu kencang atau GIF lucu yang tidak relevan. |
| Spatial Contiguity | Dekatkan teks dengan objek. | Meletakkan keterangan gambar (legend) jauh di bawah gambar. |
| Modality | Gunakan suara untuk menjelaskan gambar. | Menampilkan paragraf panjang di samping gambar saat narator berbicara. |
| Personalization | Jadilah manusiawi. | Menggunakan bahasa buku teks yang sangat formal dalam skrip video. |