Skip to content

Blended Learning Model

Fondasi Teoritis Kurikulum Blended Learning

Section titled “Fondasi Teoritis Kurikulum Blended Learning”

Sebelum memilih model, perancangan kurikulum harus didasarkan pada kerangka kerja yang kuat:

  • TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge): Kerangka kerja yang menekankan pentingnya integrasi antara pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten materi.

  • Constructivism (Konstruktivisme): Teori bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri. Blended learning mendukung ini dengan memberikan ruang eksplorasi mandiri secara online.

  • Community of Inquiry (CoI): Model yang menekankan tiga elemen penting dalam pembelajaran online: kehadiran sosial, kehadiran kognitif, dan kehadiran pengajaran.


Model ini dikategorikan berdasarkan bagaimana waktu dan ruang diatur antara pembelajaran tatap muka dan online.

Siswa berputar dalam jadwal tetap antara aktivitas belajar mandiri online dan sesi tatap muka dengan guru.

  • Station Rotation: Siswa berputar di dalam satu kelas yang sama. Salah satu “pos” adalah pembelajaran online.

  • Lab Rotation: Siswa berpindah dari kelas fisik ke laboratorium komputer khusus untuk sesi online.

  • Flipped Classroom: Materi diberikan secara online (video/bacaan) sebelum kelas, sementara waktu di kelas digunakan untuk diskusi, praktik, dan proyek aktif.

  • Flex Model: Pembelajaran online menjadi tulang punggung. Siswa belajar secara mandiri di sekolah, sementara guru hadir untuk memberikan dukungan kecil secara personal atau kelompok kecil sesuai kebutuhan.

  • Self-Blend (A La Carte): Siswa mengambil satu atau lebih kursus sepenuhnya online untuk melengkapi kurikulum tradisional mereka di sekolah fisik.

  • Enriched Virtual: Siswa membagi waktu mereka antara menghadiri kampus fisik dan belajar jarak jauh. Berbeda dengan Flipped Classroom, model ini tidak mengharuskan kehadiran fisik setiap hari.


Mengelola Transisi Synchronous & Asynchronous

Section titled “Mengelola Transisi Synchronous & Asynchronous”

Kemampuan mengelola transisi ini adalah kunci efektivitas blended learning.

AspekSynchronous (Langsung)Asynchronous (Mandiri)
DefinisiTerjadi pada waktu yang sama (Video Call, Kelas Fisik).Terjadi pada waktu yang berbeda (LMS, Forum, Video Rekaman).
Kapan DigunakanDiskusi mendalam, debat, umpan balik instan, membangun komunitas.Refleksi mendalam, membaca materi, mengerjakan tugas mandiri.
TeknologiZoom, Google Meet, WhatsApp Group (Live).Moodle, Google Classroom, Canvas, Edpuzzle.

Strategi Transisi:

  • The Bridge Technique: Gunakan aktivitas asynchronous (seperti kuis singkat atau forum) untuk memicu topik yang akan dibahas pada sesi synchronous berikutnya.

  • Feedback Loop: Gunakan sesi synchronous untuk membahas pola kesalahan yang ditemukan pada tugas-tugas asynchronous siswa.


Untuk melengkapi pemahaman Anda dalam konteks Teknologi Pendidikan (EdTech), berikut adalah poin penting tambahan:

LMS adalah infrastruktur utama. Anda perlu memahami cara mengelola konten di platform seperti Moodle, Canvas, atau Google Classroom. Fitur yang harus dikuasai:

  • Tracking & Analytics: Memantau kemajuan siswa secara real-time.

  • Gamification: Menambahkan elemen poin/badge untuk meningkatkan keterlibatan.

Dalam blended learning, materi harus aksesibel bagi semua orang.

  • Multiple Means of Representation: Menyediakan materi dalam bentuk teks, video, dan audio.

  • Multiple Means of Action & Expression: Memberi siswa pilihan untuk mengumpulkan tugas (esai, video, atau proyek grafis).

Transisi ke blended learning memerlukan metode evaluasi yang berbeda:

  • Formative Assessment: Menggunakan alat seperti Kahoot! atau Quizizz untuk cek pemahaman instan.

  • Authentic Assessment: Menggunakan e-Portofolio untuk melihat perkembangan kompetensi siswa dalam jangka panjang.