Skip to content

Synchronous vs Asynchronous Learning

Materi ini sangat krusial dalam manajemen waktu dan strategi interaksi dalam Teknologi Pendidikan. Memahami kapan harus “bertemu langsung” dan kapan membiarkan mahasiswa “belajar mandiri” adalah kunci efisiensi instruksional.


Pemilihan antara sinkron dan asinkron bukan tentang mana yang lebih baik, melainkan mana yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran.

FiturSynchronous (Sinkron)Asynchronous (Asinkron)
DefinisiBelajar bersamaan di waktu yang sama (Live).Belajar kapan saja, di mana saja (Mandiri).
Waktu Tepat PenggunaanDiskusi mendalam, brainstorming, tanya-jawab instan, pembangunan komunitas/sosial.Penyampaian materi dasar, refleksi mendalam, pengerjaan tugas kompleks, fleksibilitas jadwal.
KelebihanUmpan balik langsung, motivasi sosial tinggi.Fleksibel, mendukung deep learning, hemat biaya/waktu.
TantanganMasalah koneksi, kelelahan layar (Zoom fatigue).Isolasi sosial, risiko prokrastinasi.
  • Complex Tasks: Gunakan sinkron untuk membedah konsep yang sangat sulit.

  • Procedural Tasks: Gunakan asinkron (seperti video tutorial) agar mahasiswa bisa mengulang-ulang langkahnya sendiri.


Community of Inquiry (CoI) dalam Hybrid Setting

Section titled “Community of Inquiry (CoI) dalam Hybrid Setting”

Kerangka kerja CoI (Garrison, Anderson, & Archer) sangat penting untuk memastikan pembelajaran daring/hybrid tetap bermakna melalui tiga pilar kehadiran (presence).

  • Social Presence: Kemampuan pembelajar untuk memproyeksikan diri secara personal. Dalam hybrid, ini bisa dibangun melalui forum perkenalan (asinkron) dan diskusi kelompok kecil di breakout room (sinkron).

  • Cognitive Presence: Sejauh mana pembelajar mampu mengonstruksi makna melalui refleksi dan diskusi berkelanjutan. Ini sering terjadi di sesi asinkron melalui jurnal refleksi atau forum diskusi.

  • Teaching Presence: Desain instruksional dan fasilitasi yang dilakukan pengajar. Guru tidak hanya memberi materi, tapi membimbing arah diskusi baik di kelas fisik maupun platform digital.


Materi Tambahan: Melengkapi Ekosistem Pembelajaran

Section titled “Materi Tambahan: Melengkapi Ekosistem Pembelajaran”

Untuk melengkapi pemahaman tentang sinkron-asinkron dalam pendidikan modern, materi berikut sangat relevan:

Ini adalah implementasi praktis terbaik dari gabungan sinkron dan asinkron.

  • Asinkron (Sebelum Kelas): Mahasiswa menonton video atau membaca materi secara mandiri.

  • Sinkron (Saat Kelas): Waktu digunakan sepenuhnya untuk diskusi, praktik, atau penyelesaian masalah (PjBL).

  • Manfaat: Memaksimalkan waktu tatap muka untuk interaksi tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Model ini memberikan fleksibilitas penuh kepada mahasiswa untuk memilih:

  1. Hadir secara fisik di kelas.

  2. Hadir secara sinkron via Zoom/Meet.

  3. Mengikuti secara asinkron melalui rekaman dan modul.

  • Poin Penting: Semua pilihan harus memberikan hasil pembelajaran yang setara.

C. Gilly Salmon’s 5-Stage Model of E-Moderating

Section titled “C. Gilly Salmon’s 5-Stage Model of E-Moderating”

Materi ini membantu mahasiswa memahami bagaimana mengelola interaksi dalam platform digital:

  1. Access and Motivation: Memastikan semua bisa login dan termotivasi.

  2. Online Socialization: Membangun social presence.

  3. Information Exchange: Saling berbagi materi.

  4. Knowledge Construction: Diskusi kritis untuk membangun pemahaman.

  5. Development: Refleksi dan aplikasi mandiri.

Teori ini menyatakan bahwa media dengan sinkronisitas tinggi (video call) cocok untuk konvergensi (mencapai kesepakatan), sedangkan media sinkronisitas rendah (email/forum) lebih baik untuk penyampaian informasi dalam jumlah banyak.


Keberhasilan teknologi pendidikan tidak terletak pada seberapa canggih platformnya, tetapi pada seberapa tepat kita menyeimbangkan momen interaksi manusia (sinkron) dengan momen refleksi mandiri (asinkron).%