Critical Evaluation Framework
Materi ini dirancang untuk membantu Anda memahami bagaimana teknologi seharusnya diintegrasikan ke dalam pembelajaran secara bermakna.
1. Critical Evaluation Framework (Kerangka Evaluasi Kritis)
Section titled “1. Critical Evaluation Framework (Kerangka Evaluasi Kritis)”Dalam teknologi pendidikan, evaluasi kritis bukan sekadar bertanya “Apakah teknologi ini berfungsi?”, melainkan “Bagaimana teknologi ini meningkatkan proses pembelajaran?”.
Kerangka evaluasi membantu pendidik menghindari jebakan “Technology-Driven Instruction” (menggunakan alat hanya karena tren) dan beralih ke “Learning-Driven Instruction”. Komponen utama dalam evaluasi kritis meliputi:
- Efikasi: Apakah alat ini benar-benar membantu mencapai tujuan pembelajaran?
- Aksesibilitas & Inklusivitas: Apakah semua siswa dapat mengaksesnya tanpa hambatan fisik atau ekonomi?
- Kualitas Kognitif: Apakah teknologi memicu pemikiran tingkat tinggi atau hanya sekadar digitalisasi tugas rutin?
2. Model SAMR
Section titled “2. Model SAMR”Model SAMR, yang dikembangkan oleh Dr. Ruben Puentedura, adalah tangga yang membantu pendidik mengevaluasi bagaimana mereka menggunakan teknologi dalam pengajaran.
A. Tahap Peningkatan (Enhancement)
Section titled “A. Tahap Peningkatan (Enhancement)”- Substitution (Substitusi): Teknologi bertindak sebagai pengganti alat langsung, tanpa perubahan fungsional.
- Contoh: Mengetik tugas di Google Docs alih-alih menuliskannya di kertas.
- Augmentation (Augmentasi): Teknologi bertindak sebagai pengganti alat langsung, dengan peningkatan fungsional.
- Contoh: Menggunakan Google Docs dengan fitur Auto-save, Dictionary, dan Voice-to-text.
B. Tahap Transformasi (Transformation)
Section titled “B. Tahap Transformasi (Transformation)”-
Modification (Modifikasi): Teknologi memungkinkan desain ulang tugas yang signifikan.
- Contoh: Siswa menulis di blog yang bisa dikomentari oleh teman sekelas atau ahli dari luar sekolah secara real-time.
-
Redefinition (Redefinisi): Teknologi memungkinkan terciptanya tugas-tugas baru yang sebelumnya tidak terbayangkan/tidak mungkin dilakukan tanpa teknologi.
- Contoh: Siswa membuat film dokumenter pendek atau simulasi VR tentang sejarah, lalu membagikannya ke audiens global untuk diskusi interaktif.
3. Pedagogical vs. Technological Innovation
Section titled “3. Pedagogical vs. Technological Innovation”Seringkali kita bingung membedakan antara “menggunakan alat baru” dan “mengajar dengan cara baru”. Berikut adalah perbandingannya:
| Aspek | Inovasi Teknologi (Technological) | Inovasi Pedagogis (Pedagogical) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Alat, perangkat keras, atau perangkat lunak (gadget). | Metode, strategi, dan proses pembelajaran. |
| Pertanyaan Kunci | ”Aplikasi apa yang harus kita pakai?" | "Bagaimana cara terbaik siswa memahami konsep ini?” |
| Contoh | Penggunaan Papan Tulis Digital (Smartboard), AI Chatbots, atau VR. | Project-Based Learning, Flipped Classroom, atau Gamification. |
| Peran dalam Kelas | Sebagai medium atau infrastruktur. | Sebagai ruh atau strategi instruksional. |
Mengapa Pedagogi Harus Lebih Dulu?
Section titled “Mengapa Pedagogi Harus Lebih Dulu?”Inovasi teknologi tanpa inovasi pedagogis seringkali hanya menjadi “Substitusi” mahal. Misalnya, membeli tablet mahal untuk setiap siswa tetapi hanya digunakan untuk membaca PDF statis adalah pemborosan teknologi. Sebaliknya, inovasi pedagogis yang kuat dapat tetap berjalan meski dengan teknologi sederhana.
Kesimpulan: Inovasi terbaik terjadi ketika teknologi yang tepat digunakan untuk mendukung pedagogi yang inovatif guna menciptakan pengalaman belajar yang transformatif.